Fokus

Selasa, 10 November 2020 08:07 WIB

Tenaga Medis, TNI dan Kelompok Penyintas, Pahlawan Sejati Di Tengah Pandemi

Editor: Hadi Ismanto

Para tenaga medis dan relawan yang bertugas di garda depan penanganan Covid-19. (Foto: PMJ News/Ilustrasi/Hdi).

PMJ - Peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 2020 ini tentu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena momen bersejarah ini diperingati di masa pandemi Covid-19.

Pengertian pahlawan pun sejatinya bersifat sangat luas. Bukan hanya berani berperang membela negara, namun juga sumbangsih yang diberikan seseorang untuk membantu orang lain juga bisa dianggap sebagai pahlawan.

Selama delapan bulan lebih pandemi Covid-19, banyak pahlawan yang telah berjuang menyelamatkan para pasien yang terpapar virus corona. Mulai dari tenaga medis hingga para relawan meliputi unsur TNI-Polri, mahasiswa, akademi hingga masyarakat umum,

Mereka berjuang bukan lagi karena alasan uang, namun tanggung jawab, profesionalitas, dan jiwa kemanusiaan yang tinggi menjadi dasar mereka untuk berjuang bersama melawan pandemi.

Tidak sedikit dari mereka yang rela mengorbankan nyawa dan waktu, meninggalkan keluarga, bahkan rela bekerja tidak kenal lelah dalam balutan alat pelindung diri (APD) selama berjam-jam lamanya.

Tenaga Medis Gigih Berjuang di Garda Depan

Dokter Spesialis Paru dr Ai Gozali. (Foto: PMJ News/Instagram @aigozali06).

Satu dari sekian ratus tenaga medis yang bertindak sebagai pahlawan bangsa adalah Dokter Spesialis Paru dr Ai Gozali SpP MD. Beberapa bulan lalu, ia mencurahkan keluh kesah lewat curhatan di Instagram @aigozali06.

Dokter muda yang berdomisili di Lampung itu sangat khawatir tertular virus corona dari pasiennya. Terlebih dengan sikap masyarakat yang masih acuh dan mengabaikan protokol kesehatan.

Dokter Ai mengungkapkan bahwa dirinya bisa saja menjadi carrier virus corona yang dibawa ke lingkungan keluarganya. Terlebih bagi istrinya yang tengah hamil.

"Gimana kalau gue ketularan. Gimana kalau gue gak ketularan, tapi jadi carrier, padahal istri gue lagi hamil dan kami sedang menanti anak kami lahir di tengah pandemi ini," ungkap Dokter Ai Gozali.

Ia pun meminta kesadaran masyarakat untuk membantu agar pandemi virus corona dapat segera berakhir. Salah satunya adalah dengan tidak bepergian, sebab ini bisa menjadi media persebaran virus yang paling potensial.

"Doakan kami para staf medis. Jangan pernah sentuh muka sebelum mencuci tangan. Gue mohon banget ga usah keluar rumah dulu kalau gak penting banget, apalagi keluar kota. Demi membantu memutus rantai penularan," lanjut Dokter Ai.

Pada akhir unggahannya, Dokter Ai mengatakan apabila masyarakat menurut dan menaati semua imbauannya dan beberapa anjuran pemerintah lainnya, seperti physical distancing, kemungkinan kondisi ini bisa aman terkendali.

"Kalian gak perlu merasakan yang kami rasakan tapi tolong bantu kami. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan," tukasnya.

Kelompok Penyintas Gagah Berani Bantu Tangani Covid-19

Kelompok penyintas juga layak disebut pahlawan dalam penanganan pandemi Covid-19. Lewat peran mereka, penyebaran kasus bisa ditekan hingga tidak terjadi lonjakan jumlah pasien positif.

Hal ini diungkap oleh dua pekerja sosial Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, Wina dan Milly. Keduanya hingga saat ini tergabung sebagai relawan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran.

Wina mengaku punya motivasi tersendiri hingga memutuskan bergabung sebagai relawan di Wisma Atlet Kemayoran. Dia mengaku semua di luar ekspektasi.

"Namun, ketika sudah bergabung, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh orang lain," jelas Wina dalam keterangan tertulis dari Kementerian Sosial.

Pemberian layanan psikososial di RSD Wisma Atlet tidak berjalan mudah. Banyak tantangan dihadapi, yang pada akhirnya mengasah kemampuan para pekerja sosial dalam berhubungan dengan para penyintas.

"Rasa takut dan was-was dalam menjaga imunitas tubuh juga sering dirasakan, namun profesionalitas dalam bekerja membuat kami dapat menyelesaikan tugas dengan baik," tutur Wina.

Sementara pekerja sosial lainnya, Milly memiliki pandangan berbeda soal 'pahlawan'. Dia menilai, kata 'pahlawan' layak disematkan kepada para tenaga medis karena yang paling utama menyelamatkan pasien Covid-19 dan terjun langsung di titik episentrum.

Ditambah secara statistik, jumlah pasien meninggal karena Covid-19 sebagian adalah tenaga medis. Bahkan dukungan dari tim lain seperti logistik, relawan non-medis, edukator masyarakat, Satgas Penanganan Covid-19 pusat hingga daerah juga laik disebut pahlawan.

"Tanpa dukungan mereka, penanganan dampak Covid-19 tidak akan berjalan maksimal," tegas Milly.

Milly dan Wina turut menyampaikan harapan mereka terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

"Semoga apa yang telah kami rintis akan menggugah khususnya Pekerja Sosial di seluruh Indonesia sebab kiprah Pekerja Sosial sangat dibutuhkan sebagai bagian dari pelayanan Rumah Sakit Darurat Covid-19," terang Milly.

TNI Abdikan Diri Bantu Penanganan Covid-19

Mayjen Tugas Ratmono yang mengemban tugas membantu penanganan Covid-19. (Foto: PMJ News/TNI).

Selain memiliki tugas menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, TNI turut peran aktif membantu penanganan Covid-19. TNI telah melaksanakan beberapa langkah konkrit yaitu Operasi Penanganan Medis, Operasi Pengamanan dan Operasi Dukungan.

Di antara sekian banyak prajurit TNI yang terus berjuang merawat pasien Covid-19, salah satunya Mayor Jenderal TNI Tugas Ratmono. Ia bahkan berkantor di tiga tempat tiap hari. Pertama, di Markas Besar TNI, selaku Kepala Pusat Kesehatan TNI.

Tempat Kedua, di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, selaku Koordinator Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran. Ketiga, di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai pusat penanganan Covid-19 nasional.

Mobilitas yang demikian, dilakukan Mayjen Tugas Ratmono untuk menenangkan publik, untuk merawat pasien Covid-19 sebaik-baiknya, agar mereka segera pulih.

Mayjen Tugas Ratmono mengungkapkan, kunci strategi agar bisa menang dalam peperangan semesta melawan pandemi Covid-19 adalah kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

"Masyarakatlah yang menjadi garda terdepan dalam memberikan perlawanan. Salah satu wujud dari perlawanan itu ya disiplin menerapkan protokol kesehatan," jelas Mayjen Tugas Ratmono.

"Intinya, para pihak hendaknya menahan diri, untuk tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan kegaduhan publik. Karena, kegaduhan bisa memicu kepanikan, yang akhirnya bisa melemahkan kesadaran warga menghadapi pandemi Covid-19," imbuhnya.(Hdi)

BERITA TERKAIT