News

Selasa, 4 Mei 2021 15:35 WIB

Bom Parsel Meledak Dekat Rumah, Tewaskan Anggota Parlemen dan Polisi

Editor: Ferro Maulana

Bom parsel meledak di Myanmar. (Foto: Dok Net)

PMJ NEWS - Negara Maynmar digegerkan dengan bom parsel yang menewaskan lima orang, termasuk seorang anggota parlemen yang digulingkan dan tiga petugas polisi yang bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil penentang kekuasaan junta militer, demikian laporan media, hari ini Selasa (4/5/2021).

Ledakan terbaru terjadi di sebuah desa di bagian tengah selatan Myanmar di Bago Barat dan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB pada Senin (3/5/2021), seperti disampaikan dalam laporan situs berita Myanmar Now, yang mengutip pernyataan warga lokal.

Tiga ledakan hebat terjadi dimana satu bom parsel meledak di sebuah rumah di desa tersebut. Ledakan bom parsel itu menewaskan seorang anggota parlemen dari partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) pendukung Suu Kyi, serta tiga petugas polisi dan seorang penduduk.

Bom parsel meledak di Myanmar. (Foto: Dok Net)
Bom parsel meledak di Myanmar. (Foto: Dok Net)

Masyarakat setempat melaporkan, satu polisi lainnya yang terlibat dalam gerakan pembangkangan sipil juga terluka parah pasca lengannya terkena ledakan bom tersebut.

Untuk diketahui, kekerasan telah meningkat di Myanmar sejak kudeta militer pada 1 Februari. Ratusan orang dilaporkan terbunuh oleh pasukan keamanan yang mencoba memadamkan protes pro demokrasi di kota-kota dan pedesaan.

Para milisi etnis juga mendukung oposisi terhadap junta, dan pihak militer memerangi kelompok-kelompok milisi etnis tersebut di pinggiran kota Myanmar.

Sehari sebelumnya, Senin (3/5/2021), Tentara Kemerdekaan Kachin, sebuah kelompok pemberontak etnis, menyebutkan telah menembak jatuh sebuah helikopter militer junta Myanmar saat pertempuran di wilayah perbatasan utara dan timur Myanmar meningkat.

Media lokal Myanmar juga melaporkan bahwa seorang administrator lokal yang ditunjuk junta ditikam hingga tewas di kota utama Myanmar, Yangon.

Hingga berita ini diturunkan polisi dan militer tidak menanggapi permintaan dari Repurter Internasional untuk berkomentar. (Sumber: Reuters/ Myanmar Now).

BERITA TERKAIT