Fokus

Minggu, 10 Mei 2020 17:40 WIB

Ramadhan Jadi Tempat Bagi Muslim Dalam Mendidik dan Menempa Diri

Editor: Ferro Maulana

Amalan dan ibadah di bulan suci Ramadhan. (Foto: Ilustrasi/ PMJ News/ FIF).

PMJ - Ramadhan merupakan tempat bagi umat Islam untuk mendidik dan menempa diri. Ibarat madrasah, maka di sana ada guru pembimbing, kurikulum dan silabus, peserta didik, mata pelajaran, ujian dan tujuan pendidikan.

Guru pembimbingnya yaitu iman dan niat ikhlash lantaran mengharap ridla Allah SWT semata. Keduanya sangat penting. Bahkan, keduanya sangat berpengaruh terhadap sah tidaknya puasa, serta diterima tidaknya puasa.

Kurikulum dan silabusnya yaitu ilmu tentang puasa yang mencakup rukun-rukun puasa, syarat wajibnya, syarat sahnya, hal-hal yang membatalkannya, sunnah-sunnahnya, tingkatan-tingkatan puasa, hal-hal yang mengurangi atau membatalkan pahala puasa dan lain-lain.

Hal ini harus diketahui dan dijalankan semuanya atau sebagiannya. Paling tidak hukum-hukum dasar terkait dengan puasa. Peserta didiknya adalah seluruh umat Islam yang sudah baligh, berakal dan mampu berpuasa.

Begitu juga anak kecil yang sudah genap berusia tujuh tahun, telah mumayyiz (mampu memahami pembicaraan dan menjawab pertanyaan sederhana) dan kuat untuk berpuasa, maka walinya wajib untuk memerintahkannya berpuasa.

Mata pelajarannya banyak. Di antaranya, puasa mengajarkan kepada kita sabar, sabar menjalankan ketaatan, sabar dalam meninggalkan perkara haram dan sabar dalam menghadapi musibah.

Madrasah Ramadhan mengajarkan kepada Muslim antara lain tiga jenis sabar sekaligus. Pada saat puasa, kita ditempa untuk melakukan berbagai kewajiban dan menghindarkan diri kita dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Kita juga dituntut untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang fakir dan miskin, yaitu rasa lapar dan dahaga. Dengan itu, seandainya kita diuji dengan rasa lapar dan musibah-musibah yang lain suatu waktu nanti, maka diharapkan kita akan diberi kekuatan untuk melaluinya karena kita sudah ditempa di madrasah Ramadhan.

Melalui puasa juga, seorang Muslim belajar bersyukur. Bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah SWT anugerahkan kepada kita. Karena di luar sana, masih banyak orang yang menahan lapar dan dahaga selama berbulan-bulan, sedangkan kita menahan lapar dan dahaga hanya selama satu bulan.

Tindak Tanduk Muslim Selalu Diawasi.

Boleh dikatakan, Madrasah Ramadhan juga menanamkan pada diri kita al-Muraqabah lillah, yaitu selalu merasa tindak tanduk kita diawasi, diperhatikan dan dilihat oleh Allah ta’ala.

Selama puasa, mungkin saja seseorang makan dan minum dan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa tanpa diketahui oleh orang lain. Akan tetapi ia tahan dirinya, tidak melakukan hal itu karena ia merasa diawasi oleh Allah SWT.

Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman: ?????? ?????????? ??????????? ???? ??????? (???? ????)

Maknanya: “Dia meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku” (H.R. Muslim)

Puasa juga mengajarkan kepada kita tawakal kepada Allah. Seseorang yang memanjakan dirinya, mungkin saja ia tidak berpuasa karena merasa tidak kuat.

Namun, hal itu tidak ia lakukan. Ia makan sahur secukupnya lalu berpuasa dan bertawakal kepada Allah SWT. Ia yakin bahwa Allah akan menjadikannya kuat menjalankan ibadah puasa.

Dan masih banyak lagi pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari madrasah Ramadhan. Ibarat madrasah, Ramadhan juga memiliki ujian.

Ujiannya adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan perjuangan melawan godaan setan agar kita tidak melakukan perbuatan dosa, maksiat dan segala hal yang dapat membatalkan puasa atau membatalkan pahala puasa.

Jadi Pribadi yang Bertakwa

Sementara, tujuan pendidikan dari madrasah Ramadhan antara lain menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang bertakwa, menjalankan seluruh kewajiban, meninggalkan semua perkara haram dan mendahulukan kepentingan akhirat daripada kepentingan duniawi.

Lalu sumber Kurikulum dan silabusnya adalah ilmu tentang puasa yang mencakup rukun-rukun puasa, syarat wajibnya, syarat sahnya, hal-hal yang membatalkannya, sunnah-sunnahnya, tingkatan-tingkatan puasa, hal-hal yang mengurangi atau membatalkan pahala puasa dan lain-lain.

Madrasah Ramadhan mengajarkan kepada kita tiga jenis sabar sekaligus. Pada saat puasa, kita ditempa untuk melakukan berbagai kewajiban dan menghindarkan diri kita dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Merasakan Lapar dan Dahaga

Muslim juga dituntut untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang fakir dan miskin, yaitu rasa lapar dan dahaga. Dengan itu, seandainya kita diuji dengan rasa lapar dan musibah-musibah yang lain suatu waktu nanti, maka diharapkan kita akan diberi kekuatan untuk melaluinya karena kita sudah ditempa di madrasah Ramadhan.

Melalui puasa juga, kita belajar bersyukur. Bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Karena di luar sana, masih banyak orang yang menahan lapar dan dahaga selama berbulan-bulan, sedangkan kita menahan lapar dan dahaga hanya selama satu bulan. (SUMBER: NAHDLATUL ULAMA).

BERITA TERKAIT