Fokus

Minggu, 6 September 2020 14:02 WIB

Kasus Bunuh Diri Pasien Covid-19, Penyebab dan Solusi Pencegahannya

Editor: Hadi Ismanto

Seorang pasien Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok nekat melompat dari jendela kamarnya di lantai 13 (Foto: PMJ News)

PMJ - Penularan virus corona (Covid-19) belum menunjukan tanda-tanda mereda. Jumlah kasus terkonfirmasi positif pun terus bertambah. Pemerintah pun mengambil sejumlah kebijakan untuk menekan angka sebaran Covid-19.

Namun, ada sekulumit cerita tragis yang menimpa sejumlah pasien yang terpapar Covid-19 memilih jalan pintas dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Korban diduga merasa tertekan dan stres karena kondisi kesehatannya.

Kasus bunuh diri terbaru dilakukan seorang pasien Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok. Korban yang tengah mendapat perawatan nekat melompat dari kamar ruang inap di lantai 13.

Kasat Reskrim Polres Kota Depok, Kompol Wadi Saabani mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (3/9/2020) sekira pukul 10.50 WIB pagi. Korban berinisial YS (52) ini dinyatakan tewas di tempat kejadian.

"Korban melompat melalui jendela kamar inap yang dirusak menggunakan tabung oksigen yang tersedia di dalam ruangan," ujar Wadi kepada wartawan.

Seorang pasien di rumah sakit (Foto: PMJ News/Dok Net)

Kasus bunuh diri pasien Covid-19 sebelumnya juga terjadi di Medan dan Surabaya. Motifnya pun diduga serupa, yakni akibat depresi dan putus asa karena terinfeksi virus corona.

Di Medan, pasien positif corona bunuh diri dengan melompat dari Rumah Sakit Royal Prima Medan. Diketahui, dia sudah menjalani perawatan selama 11 hari dan menunggu masa pemulihan.

Iya kita dapat informasi ada pasien Corona yang sedang dirawat, meninggal diduga karena meloncat. Dia sudah 11 hari dirawat di Royal Prima," ujar Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Utara, dr Haris Yudhariansyah.

Sementara di Surabaya, pasien virus corona yang dirawat di Rumah Sakit Haji Surabaya nekat bunuh diri dengan lompat dari lantai 6, Gedung Al Aqso. Pasien berinisial MS (43) ini ditemukan tewas di pelataran bawah

"Kalau motifnya kita gak tahu. Tapi ini kan lagi tahap penyembuhan, jadi kita gak tahu apa penyebabnya," Humas RS Haji Surabaya," ujar Djati Setyo Putro.

Dampak depresi jadi pemicunya bunuh diri

Pasien Covid-18 yang dikarantina untuk penyembuhan (Foto: PMJ News/Ilustrasi/Hdi)

Kasus bunuh diri umumnya didominasi akibat depresi dan gangguan psikologis. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyebut umumnya kasus ini terus meningkat di seluruh dunia.

Seorang dokter spesialis kesehatan jiwa dari RSCM, dr. A. A. Ayu Agung Kusumawardhani, Sp.KJ (K) menjelaskan, depresi adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami penurunan mood atau alam perasaan.

Penurunan mood yang dialami penderita depresi sangat bermakna, hingga hal itu menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan dalam beraktivitas.

"Gejala klinisnya tidak hanya penurunan mood, tetapi akan diikuti dengan penurunan kemampuan berpikir. Proses pikirnya melambat, tidak bisa berkonsentrasi, pesimis, semua situasi dipandang dari sudut negatif," ujar dr. A. A. Ayu Agung Kusumawardhani.

Ia mengatakan, penyebab depresi bisa karena faktor biologis dan faktor eksternal, atau keduanya. Faktor biologis berarti ada masalah di dalam regulasi neurohormon, berupa ketidakseimbangan hormon serotonin di dalam otak.

Sementara faktor eksternal, lanjut dia, disebabkan oleh lingkungan atau situasi luar yang menyebabkan seseorang merasa putus asa. "Namun, kalau faktor eksternal menjadi penyebab utama depresi berat, itu biasanya memang sudah ada faktor biologisnya," ucapnya.

Keinginan untuk bunuh diri dan menyakiti diri sendiri merupakan komplikasi depresi berat yang perlu diwaspadai. Pada umumnya, pikiran bunuh diri muncul ketika penderita depresi sudah putus asa, dan berpikir mengakhiri hidup merupakan solusi tepat.

"Ini harus selalu kita deteksi pada pasien. Begitu dia ada ide atau pikiran untuk mati saja, ini sudah kita kategorikan sebagai depresi berat," tuturnya.

Imbauan Presiden Jokowi

Presiden Jokowi saat menggelar rapat di Bandung, Jawa Barat (Foto: PMJ News/YouTube Sekpres)

Bukan rahasia umum lagi jika warga yang terindikasi Covid-19 ini pun kerap menerima sanksi sosial seperti dikucilkan masyarakat. Padahal, dukungan moril dari warga dinilai memiliki peranan penting untuk mencegah depresi pasien

Menanggapi fenomena ini, pemerintah mengimbau agar di masa pandemi seperti ini warga saling bergotong royong dan mendukung satu sama lain meski terindikasi Covid-19.

Presiden Joko Widodo bahkan mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap warga sekitar yang tengah menjalani isolasi dan perawatan Covid-19 secara mandiri.

Kepala Negara meminta agar masyarakat membangun kesadaran tolong-menolong di masa sulit saat ini dan tidak mengucilkan orang yang terjangkit virus korona.

"Gotong royong, partisipasi, saling membantu bisa ditumbuhkan dari bawah," ujar Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.(Hdi)

BERITA TERKAIT