Kesehatan

Kamis, 24 September 2020 10:02 WIB

Ahli Anjurkan Penyitas Covid-19 Berlatih Penapasan

Editor: Hadi Ismanto

Ahli merekomendasikan penyintas Covid-19 memulai latihan pernapasan untuk menjaga kadar oksigen. (Foto: PMJ News/Ilustrasi/Hdi)

PMJ - Napas pendek atau dada terasa sesak dianalogikan sebagai gejala umum Covid-19. Karena itu, para ahli Loma Linda University di California merekomendasikan penyintas Covid-19 memulai latihan pernapasan untuk menjaga kadar oksigen.

Pernyataan ini dikemukakan oleh Andrew Weil, M.D direktur Center for Integrative Medicine di University of Arizona. Teknik pernapasan yang dipopulerkannya itu dinamakan bernapas 4-7-8 yang mengadopsi teknik pernapasan yoga.

"Ini adalah teknik relaksasi yang terbaik yang saya tahu. Butuh beberapa waktu, tidak butuh alat, dan tanpa biaya apapun. Anda harus mempraktikannya dua kali sehari," ungkap Dr. Weil seperti dilansir laman Medium, Kamis (24/9/2020).

"Dengan terus berlatih, dapat menurunkan detak jantung dan tekanan darah, menyehatkan sistem pencernaan, membuat mudah tidur, dan mencegah kegelisahan," sambungnya.

Teknik pernapasan 4-7-8 dapat dilakukan oleh orang yang sedang diberi terapi oksigen. Bahkan efektif pada pasien penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dengan keluhan susah bernapas dan bergantung pada oksigen serta bisa dipelajari dalam hitungan menit.

Teknik pernapasan 4-7-8 merupakan pola pernapasan yang berfokus pada pengendalian pernapasan. Teknik ini melibatkan pernapasan selama 4 detik, menahan napas selama 7 detik, dan menghembuskannya selama 8 detik.

Teknik bernapas ini dimulai dengan mengosongkan paru dari udara (buang napas), kemudian bernapas perlahan lewat hidung selama empat detik. Tahan selama tujuh hitungan, keluarkan napas dengan kuat melalui mulut selama delapan detik. Ulangi empat kali.

Para ahli kini tengah meneliti apa saja dampak kesehatan jangka panjang yang ditimbulkan akibat Covid-19. Salah satu efek pada beberapa pasien yang sudah sembuh menderita fibrosis paru (gangguan pernapasan akibat terbentuknya jaringan parut di organ paru).

Pasien SARS yang sudah sembuh dari outbreak yang pernah terjadi di tahun 2003 silam, juga menderita fibrosis paru. Fungsi paru yang tidak normal ini akan menyebabkan seseorang mengalami sesak napas, bahkan ketika beraktivitas ringan seperti berjalan.

Dengan latihan pernapasan teratur dapat meningkatkan pengembangan paru dan menguatkan otot pernapasan yang membuat kapasitas paru untuk menyediakan oksigen lebih besar.

Pernapasan diafragma bisa dilakukan sebagai permulaan. Untuk mendapatkan jumlah oksigen yang maksimal ketika menarik napas, tubuh akan menggunakan otot-otot pernapasan termasuk diafragma.(Hdi)

BERITA TERKAIT